Sejarah Awal Pemerintahan di Kota Bahari Hingga Penobatan Seding Magiri

 

Peta Madura tahun 1818, C. van Baarsel. Wilayah Sampang sebagian masuk Pamekasan, dan sebagian lagi masuk Bangkalan. (rijksmuseum.nl)

Ngoser.ID – Sampang jika diukur dari peringatan hari jadinya, usianya masih tak sampai empat abad.

Jika dibandingkan dengan tiga kabupaten lain di Madura, Sampang merupakan anak ketiga dari Nusa garam. Usianya masih di bawah kota Pamekasan. Sedang yang tertua ialah Sumenep.

Namun usia tersebut diukur melalui mekanisme ilmiah yang bernama seminar dengan mempertimbangkan hasil analisa para pakar sejarah. Tentunya hal itu tidak untuk didebat dalam ruang media ini.

Ngoser.ID hanya mencoba mengurai sejarah Sampang yang sifatnya banyak disandarkan pada cerita tutur dan folklore, namun kelemahannya tidak memiliki sumber prasasti yang menjadi standar penulisan sejarah sebagai ilmu.

Tentang Sampang, hari jadinya didasarkan pada penobatan Raden Prasena yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai Pangeran Adipati Cakraningrat I, Seding Magiri (Seda ing Imagiri) pada 23 Desember 1624 atau yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awwal.

Penobatan Prasena

Raden Prasena merupakan satu-satunya pewaris tahta Madura Barat yang selamat dalam peristiwa invasi Mataram ke Madura.

Prasena disukai Sultan Mataram dan dinikahkan dengan adiknya. Selain itu Prasena juga menikah dengan Syarifah Ambami, putri Pangeran Ronggo di Nepa, Sampang. Yakni keturunan dari Sunan Giri I, Giri Kedaton, Gresik.

Situs Ratu Ibu di Madegan Sampang. (ngoser)

Setelah tahta Madura Barat dikembalikan pada Prasena oleh Mataram, Prasena memindahkan pusat pemerintahan di Sampang.

Kendati begitu Prasena tidak menghabiskan waktunya di Madura. Beliau lebih sering ada di Mataram. Madura Barat diwakilkan pada Pangeran Santomerta, pamannya. Santomerta adalah saudara kandung Ratu Ibu Madekan, ibunda Prasena.

Sampang Sebelum Prasena

Dalam kisah babad atau folklore (cerita rakyat), sebelum Prasena membangun ibu kota pemerintahannya, sekitar 2 abad sebelumnya sudah ada struktur pemerintahan di Kota Bahari tersebut.

Zainalfattah menyebut nama Ario Lembu Petteng sebagai wakil kuasa Majapahit di Sampang. Lembu Petteng diistilahkan sebagai kuasa Sampang.

Istilah lainnya ialah Kamituwo atau Ronggo atau Patih yang berkuasa penuh di suatu wilayah (zelfstandige).

Lembu Petteng disebut dalam beberapa literatur sebagai salah satu anak Raja Majapahit penghabisan, dan dalam naskah kuna Madura Barat juga memiliki garis nasab ke Sunan Giri I. Namun itu pun perlu kajian lebih lanjut. Karena seringnya terjadi anakronisme dalam sejarah, atau ketidaksesuaian masa hidup tokoh dengan catatan tahun yang disebutkan.

Lembu Petteng dikisahkan sempat turun sebagai kamituwo, dan mengaji ke Sunan Ampel hingga wafat dan dimakamkan di sana.

Sebagai penggantinya, diangkatlah Ario Menger, anak laki-laki Lembu Petteng sebagai kamituwo. Keratonnya di Madekan.

Ario Menger digantikan anaknya yang bernama Ario Pratikel. Pratikel menetap di Gili Mandangin atau Pulau Kambing, sebuah pulau kecil di sebelah Selatan Sampang.

Ario Pratikel tidak punya anak laki-laki hingga digantikan oleh Ario Pojok, menantunya.

Ario Pojok masih kerabat dekat Pratikel. Leluhur Pojok, yaitu Ario Damar masih bersaudara dengan Ario Lembu Petteng.

Sampang Pasca Ario Pojok

Ario Pojok memiliki seorang anak laki-laki bernama Pangeran Demang. Dalam tulisan lain bernama Pangeran Demong atau Kiai Demung.

Pangeran Demang tidak menggantikan ayahnya sebagai Kamituwo. Namun lebih suka bertapa. Hingga di kemudian hari beliau mendirikan pusat pemerintahan baru di Madura Barat.

Beliau membangun keraton di Plakaran, dekat Arosbaya (Bangkalan saat ini). Keratonnya dikenal dengan nama Keraton Anyar.

Nah, di kemudian hari Pangeran Demang Plakaran menempatkan anak sulungnya sebagai Adipati di Sampang. Yaitu Raden Adipati Pramono.

Pramono juga meneruskan leluhurnya dengan menempati Madekan sebagai pusat pemerintahannya.

Pramono menikah dengan satu-satunya anak Raja Pamekasan, Kiai Wonorono. Sehingga otomatis tahta Pamekasan juga dalam kendali Adipati Pramono, yang selanjutnya dikenal juga dengan nama Pangeran Bonorogo (Wonorogo).

Baru setelah Bonorogo wafat, Sampang dan Pamekasan kembali dipecah dua.

Di Pamekasan diangkat Raden Ario Sena yang di kemudian hari bergelar Panembahan Ronggosukowati (1530-1616).

Sementara di Sampang diangkat Pangeran Adipati Pamadekan. Keduanya adalah anak dari Pangeran Bonorogo.

Sepeninggal Adipati Pamadekan, Sampang diperintah oleh Pangeran Adipati Mertosari, cucu Pramono dari garis ibunya

Mertosari merupakan penguasa terakhir sebelum peristiwa invasi Mataram ke Madura. Setelah beliau Sampang disatukan dengan wilayah Bangkalan dalam kendali Raden Prasena.

Ng

Posting Komentar

0 Komentar