Sejarah Korps Barisan Sumenep

Korps Barisan Sumenep. (Foto: Pinterest) 


Ngoser.ID - Dibentuknya Pasukan Barisan oleh Pemerintahan Kolonial sebenarnya tak lepas dari sejarah kegigihan dan keberanian orang -orang Madura dalam beragam peristiwa, terutama pada saat pertempuran Trunajaya. Kejadian tersebut sedikit banyak telah membuka mata dua kekuatan besar, yakni Mataram dan VOC, bahwa ketangguhan orang-orang Madura di medan pertempuran tak dapat disepelekan.

Setahun setelah diserahkannya Sumenep dan Pamekasan kepada VOC oleh Mataram, para penguasa di wilayah ini secara perlahan dipaksa bekerjasama dengan VOC, terutama dalam hal yang menyangkut kegiatan militer. Kerjasama ini terjadi pada tahun 1706. Saat itu pasukan VOC, Kartasura, Madura dan Surabaya, bersama-sama menumpas kekuatan Untung Surapati (Bupati Pasuruan) beserta keturunannya di seluruh Jawa Timur dan Madura. Tak sampai di situ, keadaan tersebut kemudian berlanjut pada Perang Suksesi Jawa ketiga di tahun 1746-1755.  

Pada akhir abad ke 17, Batavia mengalami berbagai macam ancaman keamanan, kejadian ini memaksa Gubernur Jenderal VOC Herman Willem Daendels memaksa para penguasa di seluruh Pulau Madura untuk mengirimkan ribuan orangnya ke Batavia. Para penguasa lokal kemudian menginstruksikan kepada para kepala desa untuk melakukan perekrutan. Orang-orang yang telah dikumpulkan lalu diserahkan kepada pemerintah, lantas dikirim ke Batavia guna menyokong kekuatan tentara kolonial yang minim jumlahnya. Tahun 1811 ribuan pasukan ini juga dilibatkan dalam mempertahankan pulau Jawa dari serangan Pasukan Inggris. Mereka disebar di beberapa tempat, antara lain di Batavia dan juga Surabaya. 

Meskipun keterlibatan pasukan Madura dalam menjaga keamanan di seluruh kawasan Hindia sempat tertahan pada masa Pemerintahan Inggris, lantas tak membuat segalanya berakhir. Setelah pemerintah Inggris mengembalikan wilayah jajahan kepada pemerintah kerajaan Belanda, kontrak-kontrak baru dengan beberapa penguasa di Pulau Madura kembali dibuat. 

Penguasa Sumenep, Pangeran Natanegara alias Panembahan Natakusuma II (sebelum bergelar Sultan Pakunataningrat) yang baru beberapa tahun diangkat menggantikan saudaranya, terpaksa memutuskan untuk menandatangani sebuah kontrak yang berisi tentang kesediaannya dalam menyediakan 1080 orang untuk dijadikan pasukan yang bertugas membantu Pemerintah Kolonial di Surabaya. Pasca ditandanganinya kontrak baru tersebut, pasukan Sumenep semakin aktif diperbantukan dalam berbagai ekspedisi militer, mulai dari ekspedisi ke Bone tahun 1824-1825 hingga perang terbesar sepanjang sejarah, Perang Jawa tahun 1825-1930.

Selepas perang usai, melalui surat keputusan tanggal 12 Februari 1831, Gubernur Jendral JG van den Bosch meminta Residen Surabaya untuk segera membentuk organisasi militer yang permanen di seluruh wilayah kerajaan di Pulau Madura. Residen Surabaya H. J. Domis secara khusus ditunjuk mewakili pemerintah untuk menyampaikan hal ini kepada para penguasa di Madura. Ia ditugaskan untuk mempersiapkan segala macam hal menyangkut pembentukan kesatuan ini. Beberapa bulan setelahnya,  pada tanggal 17 Agustus 1831 bersama-sama dengan Sultan Bangkalan, Panembahan Pamekasan dan juga Sultan Sumenep, kesatuan ini diresmikan dengan nama “Korps Barisan”.

Korps militer ini dibina langsung oleh para perwira Eropa. Masing-masing di wilayah kerajaan terdapat satu batalyon. Satu batalyon Korps Barisan dibagi ke dalam lima kompi. Masing-masing terdiri dari kompi pasukan kavaleri, pasukan arteliri, pasukan infanteri dan pasukan pikenier, sehingga kesatuan ini lebih mirip sebuah pasukan gabungan. Di masa awal pembentukannya, Korps Barisan dipimpin langsung oleh penguasa setempat dengan pangkat tertinggi yakni Mayor Jenderal, sedangkan para putra-putranya dianugrahi pangkat Letnan Kolonel dan Kolonel. Seluruh pembiayaaan pasukan ini ditanggung oleh kedua belah pihak, antara lain kerajaan dan juga pemerintah kolonial.

Korps Barisan mulai mengalami beberapa perubahan secara mencolok pada saat dihapuskannya pemerintahan kerajaan di seluruh Madura. Pertama-tama yang mengalami perombakan adalah Korps Barisan Pamekasan pada tahun 1858, lalu kemudian Korps Barisan Sumenep tahun 1882, dan terakhir Korps Barisan Bangkalan pada tahun 1885. 

Perubahan struktur dan administrasi berakibat pada pemangkasan beberapa hal. Jika semula kendali pasukan berada di bawah pimpinan seorang setempat (Sultan atau Panembahan), kali ini semua kesatuan berada dalam kendali Pemerintah Kolonial. Tak hanya itu, kompi-kompi pasukan kavaleri dan artileri dihapuskan, pun juga dengan pasukan pikenier mengalami nasib yang sama. Sejak berada dalam kendali pemerintah Kolonial, Barisan bukan lagi menjadi semacam pasukan gabungan melainkan sebagai pasukan infanteri mirip angkatan darat Hindia Belanda (KNIL).

(Tulisan ini diambil dari situs www.sumeneptempodulu.or.id, yang berjudul “Sejarah panjang perjalanan Korps Barisan Sumenep”)

Faiq Nur Fikri/Stedu/Ng


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Betting on in-state collegiate games and events, and player prop bets 카지노사이트 on all collegiate games, is prohibited. Iowa legalized sports activities playing in 2019, with multiple of} websites beginning to take bets at the finish of that summer season. State legislation permits for betting on each pro and college sports activities. Betting on in-state collegiate recreation outcomes is allowed, but player prop bets in collegiate games are prohibited.

    BalasHapus